Langsung ke konten utama

Cintaku untuk Si Buah Hati


Abel saat berumur 18 bulan
Harapan kami pada si buah hati, mungkin sama seperti harapan-harapn orang tua lainnya di muka bumi ini. Ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, aktif, soleh/solehah, dan tidak kurang satu apapun dari anggota tubuhnya. Aku selalu gerimis menyaksikan bayi-bayi yang lahir dengan kondisi; kembar dempet, tidak punya usus, jantung di luar, hidrocephalus, dan berbagai kekurangan kondisi tubuh lainnya. Untuk itu, kami selalu berdoa dan berikhtiar agar Tuhan memberikan kami anak yang sempurna. Apalagi ini adalah anak pertama kami.

Ikhtiar kami lakukan secara batiniah dan lahiriah. Setiap malam, seusai salat Magrib dan Isya, suamiku selalu membaca ayat-ayat suci. Lebih lama dari yang kulakukan. Ya, aku cepat merasa lelah dan langsung merebahkan badan. Sambil bertilawah, aku diminta merebahkan kepalaku di pangkuannya. Supaya anak kita terbiasa mendengarkan ayat Al Qur’an meski masih dalam kandungan, begitu katanya. Masih dengan aku tidur dipangkuannya, sesuai tilawah, suamiku tak lupa mempohonkan doa, untukku juga untuk bayi kami. Seiring bertambah besarnya kehamilanku dan aku semakin kepayahan, suamiku semakin ekstra memerhatikanku. Tak jarang, kulihat dia menangis ketika sedang mempohonkan doa pada Sang Kekasih.


Di samping itu, aku selalu memperhatikan asupan makanan yang sehat dan bergizi. Memaksakan diri mengkonsumsi susu ibu hamil yang akhirnya tak kusentuh sama sekali karena susu itu justru membuat aku tambah mual lalu muntah. Berbagai  merk sudah aku coba, tapi sepertinya anakku tak mau menerima asupan susu apapun. Jangankan untuk mencoba meminum susunya, mengetahui bahwa suamiku sedang menyeduh susu tersebut di dalam gelas saja sudah membuatku mual. Aku sampai mengancamnya, jangan mendekatiku jika masih mencoba membuat susu untukku. Akhirnya, susu  dengan berbagai merk tersebut diminum oleh suamiku :D.Yeah, susu memang hanya sebagai penunjang saja. Yang terbaik tetap asupan dari alam.

Kami setuju bahwa asam folat dan omega 3 merupakan asupan zat baik yang diperlukan janin untuk perkembangan otaknya. Tapi selama hamil, aku tidak pernah membeli tablet asam folat atau meminta dokter meresepkan asam folat untukku. Dan, seperti yang aku sebutkan tadi, aku selalu memuntahkan susu bumil yang katanya mengandung banyak tambahan zat gizi yang dibutuhkan bayi untuk pertumbuhan otaknya. Untung suamiku rajin membeli ikan tuna dan sarden segar yang mengandung omega 3. Dia juga melakoni hobinya menjala ikan di malam hari (mengikuti tetangga yang suka menjala ikan) demi istrinya bisa menyantap ikan sungai yang segar. Setiap kali aku muntah, suamiku dengan cekatan menyiapkan makanan penggganti. Jangan menyerah sama muntah. Selesai muntah, makan lagi. Muntah lagi, makan lagi. Begitu selalu yang dikatakan oleh suamiku. Pada kehamilan trimester ketiga, setiap usai salat subuh, dia akan ‘memaksaku’ olahraga pagi, yaitu jalan-jalan santai mengelilingi kompleks. Hitung-hitung ganti senam hamil. Aku bilang ‘memaksa’ karena aku memang malas berolahraga, apalagi di pagi hari. Biasanya, usai salat subuh, aku kembali menarik selimut.

Begitulah usaha-usaha terbaik yang kami lakukan dalam rangka menyambut titipan Tuhan pada kami.

April 2009, di hari Minggu, seorang bayi mungil yang tampan, hadir di rumah yang kecil. Lahir normal di bidan desa tempat aku tinggal. Aku masih ingat celetuk bidan ketika pertama sekali menyambut bayiku setelah lahir.

“Gantengnyaaa..hidungnya juga mancung.”

Ya, kami bersyukur sekali, bayi tampan itu sekarang sudah hampir empat tahun umurnya. Lahir dengan berat badan hanya 2500 gram (batas minimum berat badan lahir), tidak membuat kami berkecil hati. Anakku masih normal meski terlihat lebih kecil dibanding bayi lainnya. Perhatian dan cinta dariku, suamiku, kedua orangtuaku, mertuaku, dan suadara-saudara kami lainnya, semakin melengkapi kebutuhan kasih sayang untuknya.

Sejak awal aku berkomitmen memberinya ASI eksklusif. Apa daya, aku tidak memenuhi syarat untuk memberikan ASI eksklusif karena tak cukup ASI. Meski usaha maksimal telah kulakukan seperti makan makanan bergizi, minum susu, hingga usaha terapi herbal, tetap saja ASI-ku tidak cukup. Di usianya yang masih tiga bulan, anakku terpaksa harus merasakan susu formula. Ini juga berdasarkan saran dokter anak. Sungguh sedih rasa  di hati. Tapi aku tidak ingin berlarut dengan kesedihan. Mungkin itu yang terbaik untuk anakku. Usia enam bulan, aku mulai sedikit demi sedikit memperkenalkan  makanan pendamping ASI (MPASI). Aku membeli majalah-majalah parenting dan mendapat banyak  ilmu dari sana. Aku bertekad, meski anakku tidak mendapat ASI eksklusif, aku harus menyiasatinya dengan memberi makanan bergizi pada masa-masa MPASI-nya. Usia delapan bulan, bayi sudah bisa diperkenalkan dengan makanan sedikit lebih padat dibanding sebelumnya yang hanya bubur saring. Pada saat inilah aku aku berkreasi membuat MPASI-nya. Jika tetanggaku hanya memberi nasi putih giling dicampur pisang untuk anaknya, aku tidak mau hanya memberi makanan itu saja untuk anakku. Aku memberinya sayur-sayuran.  Aku mengukus sayuran (tidak merebus karena gizinya akan larut dalam air), lalu aku haluskan secara alami (tak pakai belnder), kucampur dengan nasi. Sesekali dengan labu, jagung, tahu, ubi ungu yang katanya bagus untuk bayi. Semua tentu saja harus aku haluskan. Untung anakku mau menerima makanan apapun yang aku buat. Umur satu tahun, aku mulai memperkenalkan ikan pada makanannya, yaitu ikan tuna yang aku haluskan. Aku membuat makanan tidak berdasarkan resep. Apa yang tersedia di pasar, yang segar-segar, aku beli dan olah menurut kreasiku sendiri.

Begitulah perhatian dan cintaku pada anakku. Aku akan bersedia repot demi memberi asupan gizi terbaik untuknya.

Sekarang, dia tumbuh menjadi anak yang tampan. Dia melampaui kemampuan anak-anak di kompleks yang lahir hampir bersamaan dengannya. Dia bisa akrab dengan siapa saja.  Meski dia terpisah dariku dan bertemu kembali untuk jarak waktu satu semester kuliahku di negeri orang, tapi aku selalu merindukannya. Dialah cintaku nomor satu, si tampanku; Muhammad Abel Aprillio Syarif.

Komentar

  1. abel dari kecil sampe besar masih comel ya, lesung pipinya itu loe, ga luntur, hehheheeehehe muach untuk abel

    BalasHapus
  2. Mmmuuuaaaaah juga untuk tante Lisa :D

    BalasHapus
  3. suka warna hijau,,, adem di mata sejuk di hati ...

    ^_^

    #bukankampanye

    BalasHapus
  4. saya penggemar warna hijau Azhar :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Namanya Abel

Halooooo...semua...saya membuat blog baru khusus untuk mencatat jejak langkah putra saya bernama Abel dan cerita-cerita yang menyertai tumbuh kembangnya. Mungkin sudah agak telat karena April nanti dia genap berumur empat tahun. Hallooo..saya ke mana ajaaa? Nggak ke mana-mana, kok. Dulu-dulu males bikin blog khusus. Takut tak sempat urus. Tapi karena ternyata saya sering membuat status tentang dia, akhirnya  saya berpikir ulang untuk membuat blog khusus yang berisi catatan tentang putra saya dan keluarga saya. Saat ini putra saya masih satu, dan jika Allah mengijinkan saya punya anak lagi selain Abel, tentunya blog ini akan tambah seru dan rame nantinya. Ohya, selain memanggilnya dengan nama 'Abel', saya dan ayah Abel sesekali memanggilnya dengan sebutan 'bujang'. Bujang g dalam bahasa Minang berarti anak laki-laki. Saya dan suami berasal dari kabupaten di Aceh yang banyak penduduknya berbicara dalam bahasa Minang. Baiklah, saya perkenalkan putra saya dulu yaaa...

'Full House', Rumah Impian Kami

Sejak menikah di tahun 2008, saya dan suami tidak tinggal serumah dengan orang tua sebagaimana lazimnya pasangan baru menikah di Aceh.  Begitu selesai prosesi nikahan di kampung kami di Aceh Selatan, kami kembali ke kota Banda Aceh. Ya, Tuhan menjodohkan saya dengan lelaki yang berasal dari daerah yang sama di Aceh dan sama-sama memiliki aktivitas di kota Banda Aceh. Saya saat itu sedang mengambil kepaniteraan klinik keperawatan di salah satu rumah sakit umum di Banda Aceh, jadi dengan tergesa-gesa selepas semua acara, kami langsung kembali ke Banda Aceh. Kembali ke Banda Aceh, kembali ke aktifitas kami masing-masing.  Kami memulai hidup baru sebagai sepasang suami istri benar-benar dari nol. Sehabis lamaran sampai nikahan, lalu mengontrak sebuah mungil, membeli peralatan rumah dan peralatan memasak seadanya, suami hanya menyisakan sedikit uang. Sementara saya sama sekali tidak punya tabungan. Suami saya bukan seorang PNS, juga bukan pegawai  atau karyawan tetap se...